[Pramoedya Ananta Toer] ↠´ Anak Semua Bangsa [money PDF] Read Online Õ adbam.co.uk

[Pramoedya Ananta Toer] ↠´ Anak Semua Bangsa [money PDF] Read Online Õ Melanjutkan buku pertama, dimana tokoh Minke begitu mengagumi kebudayaan Eropa yang dianggapnya superior tak bercela, buku ini menampilkan pergeseran pandangan A disillusionment Kekecewaan bahwa Belanda atau Eropa bisa sama busuknya dengan raja raja Jawa yang korup itu Kepenulisan Minke, yang selama ini hanya dalam bahasa Belanda, mulai didorong dorong oleh sahabatnya untuk menjamah ranah bahasa Melayu juga Bahasa adalah bagian penting dari jati diri Cerita ini dengan indahnya melukiskan pergulatan mencari jati diri ini Dibuka dengan kisah kematian Annelies, mau tidak mau buku ini membuatku patah hati.
Adegan penutup yang sangat mengesankan Kemarahan, kesedihan dan harga diri kebangsaan berkelit berkelindan dalam dialog antara Ir Maurits Mellema dengan Nyai Ontosoroh dan para sahabatnya Maysaroh, gadis kecil putri pelukis perancis yang diam diam menaruh hati pada sang nyai, paling mewakili kepedihan para orang dewasa dalam ruangan itu Dia memekik sedih dan murka saat mengetahui sarjana rupawan dihadapannya itulah pembunuh Kak Annelies kesayangannya Minke masih juga gagap dan tidak bertaring dihadapan kekuasaan kolonial Eropa Sementara Nyai Ontosoroh seakan mewakili nasib pribumi masa itu kita hanya bisa melawan dengan kata kata PS A generous gift from Lita Sebenarnya ulasan saya ini tugas sekolah pas disuruh bikin resensi buku sih, haha.
In Child Of All Nations, The Reader Is Immediately Swept Up By A Story That Is Profoundly Feminist, Devastatingly Anticolonialist And Full Of Heartbreak, Suspense, Love, And Fury Pramoedya Immerses The Reader In A World That Is Astonishing In Its Vividness The Cultural Whirlpool That Was The Dutch East Indies Of The S A Story Of Awakening, It Follows Minke, The Main Character Of This Earth Of Mankind, As He Struggles To Overcome The Injustice All Around Him Pramoedya S Full Literary Genius Is Evident In The Brilliant Characters That Populate This World Minke S Fragile Mixed Race Wife A Young Chinese Revolutionary An Embattled Javanese Peasant And His Impoverished Family The French Painter Jean Marais, To Name Just A Few Buku kedua, Tetralogi Pulau buru karya Pramudya Ananta Toer Buku ini sekaligus buku terakhir yang kubaca tentang kisah Minke, alias Tirta Adi Surjo, yang pada tahun 2006 lalu akhirnya diakui dengan gelar pahlawan Nasional Acak.
Kisah di buku kedua ini menceritakan babak baru hidup Minke setelah ditinggal istrinya Annelies Annelies yang patah hati, semakin lemah dan jatuh sakit dalam perjalanan dan akhirnya meninggal di negeri moyangnya Netherland Jauh dari orang orang yang dicintai dan mencintainya Murung.
Juga cinta, sebagaimana halnya setiap benda dan hal, mempunyai bayang bayang Dan bayang bayang cinta itu bernama derita Tak ada satu hal pun tanpa bayang bayang, kecuali terang itu sendiri.
Minke tetap tinggal bersama mertuanya, Nyai Ontosoroh Juga tak ingin hidup dalam bayang bayang Nyai Ontosoroh yang selalu dikaguminyaperempuan pribumi yang mampu mandiri dan menghujat kolonialisme Tapi selalu saja ada masalah yang menahan Minke untuk melanjutkan sekolahnya ke Batavia sebagai dokter Agaknya semua bermuara pada upaya perampasan hasil jerih payah Nyai, dari keluarga almarhum Suaminya sekaligus pembunuh Annelies Mereka terus berjuang mempertahankan haknya, sampai akhirnya hanya bisa mengandalkan lisan saja.
Para sahabat Minke mengajaknya berkenalan dengan semangat pembaharuan selain eropa Eropa yang selama ini satu satunya tempat dia memandang, sebagai sebagai peradaban yang lebih tinggi mulai berhadapan oleh negara negara di Asia yang berusaha menyaingi eropa.
Adanya Pengakuan Belanda terhadap Jbangsa epang yang dianggap setara dengan bangsa Eropa Geliat Cina yang ingin menjadi Republik, dan yang terdekat Philipina, dengan Jose Rizalnya kemudian menjadi negara Republik yang pertama di Asia.
Seperti yang terekam dalam kata Khow Ah Soeaktifis tionghoa yang terlunta lunta demi cita cita kaum muda bangsanya Kami harus serasikan Cina kami dengan kekuatan eropa, tanpa menjadi eropa Seperti halnya dengan Jepang.
Atau belajar dari Jepang, dalam sebuah seminar Setiap orang Jepang yang meninggalkan negerinya, apakah dia kuli nenas di Hawaii, apakah dia koki kapal bangsa lain, apakah dia koki pada sebuah Mansion di San Fransisco, apakah dia pelacur di kota kota besar di dunia, semua mereka adalah jantung dan hati bangsa Jepang, tidak bisa terpisahkan dari negerinya, leluhurnya dan bangsanya.
Kelak mereka kembali ke negerinya, membangun Jepang setara dengan Eropa.
Perubaahan bangsa bangsa sekitar, membuat Minke terheran heran Belajar dari peradaban yang bukan eropa, awalnya aneh, baru dan tak terbayangkan bisa terjadi Bagaimana sistem kerajaan mulai ditinggalkan dan berganti dengan republik Revolusi perancis sebagaimana di eropa juga terjadi di Asia Dan bentuk pemerintahan baru dicapai dengan istilah asing yang baru didengarnya yaitu bernama Organisasi.
Mungkin ini sebabnya, judul buku ini menjadi Anak Semua Bangsa ya Karena memang banyak pembelajaran dari negara selain eropa Bagai bayi semua bangsa dari segala jaman, yang kemudian tumbuh Dan kelak menjadi cikal bakal tumbuhnya nasionalisme di Indonesia.
Karir menulis Minke semakin menanjak Tak hanya berbahasa Belanda, dia juga ditantang menulis dalam bahasa Inggris Tapi sahabat sahabat terdekatnya justru mendesaknya menulis dalam bahasa yang dianggapnya rendah Bahasa bangsanya, bukan bahasa Jawa, tapi bahasa Melayu Bahasa tanpa kasta.
Pada buku ketiga, kelak bahasa inilah yang dipilih menjadi alat perjuangan, alat propaganda dan pembentuk pendapat umum Minke memperkuat bahasa melayu melalui surat kabar Medan Prijaji nya Bahasa iniah yang jadi cikal bakal pemersatu dan lahirnya Indonesia Andai Minke menggunakan bahasa Jawa, mungkin Indonesia pun tak pernah ada.
Sebelum menulis dalam bahasa Melayu, Minke digugat untuk mengenal bangsanya sendiri Baru saja hmulai menulis tentang bangsanya, Minke membongkar kekejaman kapitalis Industri Gula di Tulangan Sidoarjo Praktek perampasan tanah rakyat Membuat bangsanya menjadi budak di tanah sendiri Dan agaknya praktek ini masih juga tersisa hingga sekarang Tak pemerintah, maupun pemilik modal Dengan alasan pembangunan mencaplok hutan dan tanah rakyat, mengganti dengan tambang, jalan tol atau apalah Hasilnya, rakyat tak juga sejahtera, makin miskin Tapi yang pasti memperkaya pemilik modal.
Pelajaran penting buat Minke yang akhirnya menyadari bahwa Surat kabar bisa memihak Keberadaan surat kabar tempatnya bekerja ternyata untuk mengukuhkan kekuatan pemilik modal yang mendanai keberadaannya Bangsanya harus membuat sendiri surat kabar yang menyuarakan kepentingan bangsanya.
Agaknya aktifis saat ini perlu kembali menyadari kembali hal ini ditengah derasnya Media massa saat ini Benarkah berpihak pada Rakyat.
Seperti tema yang juga diangkat novel tetralogi buru lainnya, buku kedua ini juga mengenalkan Tulisan sebagai kekuatan perubahan Di belahan dunia manapun.
Setelah baca semua tetralogi pulau buru, aku makin gak ngerti kenapa buku ini sempat dilarang Ada pula yang beri cap buku kiri Apa yang ditakutkan dari buku ini ya Isinya tentang cikal bakal nasionalisme yang kelak menjelma menjadi Indonesia Tentang kekuatan menulis dan perannya terhadap lahirnya Indonesia Tentang kegerahan terhadap kolonialisme, dan keingin berhenti dari kecanduan penjajahan Tentang kemanusiaan Tentang pencarian Jati diri bangsa Tentang keinginan untuk berubah, kemudian bersatu, dan berjuang melalui organisasi dan pers.
Kupikircuma mental penjajah yang takut buku ini di baca orang banyak.
Hapus air mata dan lepas semua duka lara.
.
lihatlah keadaaan disekelilingmuSebagaimana kita akan tetap terkenang pada hari ini, dia pun seumur hidup akan diburu buru oleh kenangan hari ini, sampai matinya, sampai dalam kuburnyaNyai OntosorohYa Ma, kita sudah melawan, Ma, biarpun dengan mulutMinkeIni adalah kisah tentang duka.
.
tentang kehilangan.
.
Annelies.
.
Ini juga merupakan sebuah periode bagi Raden Mas Minke.
.
untuk bangkit dari kesedihan.
.
lewat sepotong cerita dari Tulangan, Sidoarjo.
.
Daerah asal Nyai Ontosoroh, Minke menemukan Kisah Nyai Surati dan petani Trunodongso.
.
kisah yang secara tidak langsung menyingkap tabir masa lalu kelam bagi sang tuan besar Mellema.
.
dan dari Tulangan, Minke yang sudah terbiasa menikmati segala sanjung puja lewat garis bangsawan yang dimilikinya, melihat dengan mata kepalanya sendiri.
.
kenyataan bahwa rakyat jelata tak berdaya.
.
melawan kekuasaan bangsa Eropa.
.
Lewat para sahabatnya yang merupakan anak segala bangsa Jean Marais, Kommer, Khouw Ah Soe dan korespondensinya dengan keluarga de la Croix Herbert, Sarah dan Miriam.
.
juga lewat guru sekaligus ibu mertuanya Nyai Ontosoroh.
.
Minke disadarkan untuk tak melulu membanggakan peradaban Eropa.
.
untuk tak selalu mengunggulkan catatannya dalam bahasa Belanda.
.
lewat anak segala bangsa.
.
kesadarannya mulai tergugah bahwa untuk melawan segala bentuk ketidakadilan yang mendera bangsanya.
.
ia harus menulis dalam bahasa bangsanya.
.
dan berbuat sebaik baiknya bagi bangsanya.
.
Berhasilkah Minke mencapai tujuannya Anak Semua Bangsa Barang siapa tidak tahu bersetia pada azas, dia terbuka terhadap segala kejahatan dijahati atau menjahati Mama, 4 Nama berganti seribu kali dalam sehari, makna tetap Mama, 20 Kalau hati dan pikiran manusia sudah tak mampu mencapai lagi, bukankah hanya pada Tuhan juga orang berseru Panji Darman Jan Dapperste, 33 Kau pribumi terpelajar Kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar Kau harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu Jean Marais, 55 Mendapat upah karena menyenangkan orang lain yang tidak punya persangkutan dengan kata hati sendiri, kan itu dalam seni namanya pelacuran Jean Marais, 59 Jangan kau mudah terpesona oleh nama nama kan kau sendiri pernah bercerita padaku nenek moyang kita menggunakan nama yang hebat hebat, dan dengannya ingin mengesani dunia dengan kehebatannya kehebatan dalam kekosongan Eropa tidak berhebat hebat dengan nama, dia berhebat hebat dengan ilmu pengetahuannya Tapi si penipu tetap penipu, si pembohong tetap pembohong dengan ilmu dan pengetahuannya Mama, 77 Benih yang tidak sempurna akan punah sebelum berbuah Mama, 79 Jangan agungkan Eropa sebagai keseluruhan Di mana pun ada yang mulia dan jahat Di mana pun ada malaikat dan iblis Di mana pun ada iblis bermuka malaikat, dan malaikat bermuka iblis Dan satu yang tetap, Nak, abadi yang kolonial, dia selalu iblis Mama, 83 Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun Karena kau menulis Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari Mama, 84 Dengan ilmu pengetahuan modern, binatang buas akan menjadi lebih buas, dan manusia keji akan semakin keji Tapi jangan dilupakan, dengan ilmu pengetahuan modern binatang binatang yang sebuas buasnya juga bisa ditundukkan Khouw Ah Soe, 90 Pernah kudengar orang kampung bilang sebesar besar ampun adalah yang diminta seorang anak dari ibunya, sebesar besar dosa adalah dosa anak kepada ibunya Robert Suurhorf, 98 Inilah jaman modern, Minke, yang tidak baru dianggap kolot, orang tani, orang desa Orang menjadi begitu mudah terlena, bahwa di balik segala seruan, anjuran, kegilaan tentang yang baru menganga kekuatan gaib yang tak kenyang kenyang akan mangsa Kekuatan gaib itu adalah deretan protozoa, angka angka, yang bernama modal Miriam de La Croix, 107 Apa akan bisa ditulis dalam Melayu Bahasa miskin seperti itu Belang bonteng dengan kata kata semua bangsa di seluruh dunia Hanya untuk menyatakan kalimat sederhana bahwa diri bukan hewan Minke, 114 Tanpa mempelajari bahasa sendiri pun orang takkan mengenal bangsanya sendiri Kommer, 119 Kartini pernah mengatakan mengarang adalah bekerja untuk keabadian Kommer, 121 Kehidupan ini seimbang, Tuan Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit Kommer, 199 Kehidupan lebih nyata daripada pendapat siapa pun tentang kenyataan Kommer, 199 Selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia Kommer, 204 Revolusi perancis, mendudukkan harga manusia pada tempatnya yang tepat Dengan hanya memandang manusia pada satu sisi, sisi penderitaan semata, orang akan kehilangan sisinya yang lain Dari sisi penderitaan saja, yang datang pada kita hanya dendam, dendam semata Kommer, 204 Orang rakus harta benda selamanya tak pernah membaca cerita, orang tak berperadaban Dia takkan pernah perhatikan nasib orang Apalagi yang hanya dalam cerita tertulis Mama, 382 semua yang terjadi di kolong langit ini adalah urusan setiap orang yang berfikir Kommer, 390 Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berpikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang memang berjiwa kriminil, biar pun dia sarjana Kommer, 390 In the first part of the Buru Quartet, Bumi Manusia This Earth of Mankind , our protagonist, Minke, a Native Javanese was attending an exclusive Dutch high school HBS and then married a beautiful Indo European, Annelies, who is a daughter of a wealthy Dutch and his concubine, Nyai Ontosoroh In humility, I realized I am a child of all nations, of all ages, past and present Place and time of birth, parents, all are coincidence such things are not sacred In the second part, Anak Semua Bangsa Child of All Nations , Minke has graduated and is learning the world from many people of different backgrounds The closest one is his mother in law She is self taught she has never been to any school, except that of life itself She proves herself time and time again to be capable of defending her principles and self respect She shows Minke what he can never learn at school You re an educated native While Native people are not educated, it is you who must ensure they become educated You must, must, must speak to them in a language they understand The editor of the newspaper he used to write while attending HBS challenged him to write in Malay, the language of the Natives This leads him to learn about his own society, the peasants, the injustice, the gap between theories and the reality, and importantly about himself Good, you have admitted that Now, if a Native starts to talk to you in high Javanese will you advise him to switch to low Javanese Ha, you can t answer You are still not able to give up the comforts and pleasures that are yours as an inheritance from your ancestors rulers over your own native fellow countrymen Yea re a cheat The ideals of Liberty, Equality, and Fraternity of the French revolution I shriveled in shame Yes, I had to admit it I was still unable to give up the benefits of my heritage When someone spoke to me in low Javanese, I felt my rights had been stolen away On the other hand, if people spoke to me in high Javanese, I felt I was among those chosen few, placed on some higher plane, a god in a human s body, and these pleasures from my heritage caressed me The story is also about people fighting back, resisting the worst of colonial oppression and greed The world is changing in the early 20th century China is awakening, Japan is considered equal to the West, and the Filipino people have created the first Asian republic although briefly We fought back, Child, as well and as honorably as possible.



Masih ingat gaya bercerita buku buku teks Sejarah waktu sekolah ga gaya penulisannya kurang pasti objektif, kronologis, dan penuh tanggal tanggal yang wajib kita hapalin karena selalu muncul di ujian.
Keknya emang itu satu satunya cara para penulis buku teks yang digunakan di sekolah sekolah buat mempertahankan keobjektifannya dan tidak memihak Tapi, kalok nDaru bilang sih hal kekgini bikin sejarah menjadi kering kehilangan nuansa, sepanjang nDaru ngikutin buku sejarah dari SD mpe SMA, gak ada yang membawa kita bisa merasaken feel ato greget kronologi kejadiannya Kita endak tahu seperti apakah keadaan emosi suatu zaman Kita endak bisa menyatu dan ikut merasakan apa sih yang dialami tokoh tokoh sejarah di masa itu Kita hanya tahu bahwa Soekarno Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 Tapi kita endak pernah tahu apakah beliau sempat tidur sejak diculik pemuda ke Rengasdengklok, apa beliaunya bahagia apa beliaunya malah takut Tiba tiba saja ditodong disuruh mbikin naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda Trus mbikin UUD buwat negara yang baru saja laer ini Lhabaru di buku Anak Semua Bangsa, kita bisa melihat sudut kehidupan yang lain yang diceritakan buku teks sejarah tentang zaman kebangkitan nasional kalok buku teks sejarah menghadirkan tokoh sentral macam Ki Hajar Dewantara, Douwes Dekker, dan dr Cipto Mangunkusumo, Pramoedya memulainya dari tokoh fiktif bernama Minke, seorang pribumi yang nDaru yakin gak pernah dicatat sejarah manapun.
Minke berasal dari kelas masyarakat yang jarang dipotret oleh buku sejarah Si Minke ini termasuk pribumi yang beruntung karena bisa sekolah di HBS, sekolah bikinan Belanda yang waktu itu cukup ngetren di ranah Eropa Karena pinter, ia jadi penulis di sebuah harian berbahasa Belanda, sesekali menulis dalam Bahasa Inggris,pokoknya Eropa minded banget lah, disamping itu Si Minke ini juga cenderung congkak karena kedudukan dan kepinterannya.
Dari kacamata seorang yang sama sekali endak punya kepedulian terhadap bangsanya sendiri bahkan dikisahkan si Minke ini endak mau menulis dalam bahasa Melayu sama sekali kita diberikan gambaran seluas luasnya tentang corak, emosi, dan budaya masa masa itu tanpa batas Dari mendalami Minke berproses dari Eropa minded menuju ke kesadaran cinta tanah air dan pentingnya kemerdekaan ini, kita merasa dekat dan rasanya masa tersebut begitu dekatnya dengan semua proses kemerdekaan bangsa ini.
Anak Semua Bangsa cuman sebuah potret kecil kehidupan Minke Kata paman Wikipedia dapet dari non Darnia Roman ini merupakan buku kedua dari Tetralogi Buru Bumi Manusia, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah nDaru sendiri udah baru mbaca yang Anak Semua Bangsa ini sama Bumi Manusia, tapi buku yang kedua ini yang lebih nyantol di jidat nDaru.
Roman ini masuk dalam kategori berat buat dibaca, apalagi ni buku menceritakan kebangkitan nasional dari sisi yang beda, jadi buku ini nDaru rasa tetap endak cocok buat anak anak sekolah Buku teks yang konvensional keknya masih lebih baek buat memberikan dasar pengetahuan bagi mereka Mungkin roman ini sesuai untuk mereka yang udah matang dalam menyikapi sejarah dan ingin memperkaya pengetahuan tentang masa masa kebangkitan nasional.
Sekian gacoran sayah yang sok analis inih.
.
slamat mbaca bukunya Dengan rendah hati aku mengakui, aku adalah bayi semua bangsa dari segala jaman, yang telah lewat dan yang sekarang Tempat dan waktu kelahiran, orangtua, memang hanya satu kebetulan, sama sekali bukan sesuatu yang keramat Pramoedya Ananta Toer dalam Anak Semua Bangsa Ini adalah lanjutan dari kisahku Kisah seorang anak yang terlahir di atas bumi manusia, dengan kesetaraan fitrah dan kelahirannya Tanpa batas negara, suku, budaya, tempat, darah dan segalanya Akan tetapi, pada saat yang sama, manusia mencoba menetapkan sistem, aturan dan nilainya sendiri Manusia mengkotakkan diri dalam batasan fana negara, bangsa, suku ataupun kasta Apakah yang disebut bangsa Apakah yang dinamakan kasta Dan apakah pula yang dikatakan sebagai kelas sosial Dengan keangkuhannya sendiri, manusia menempatkan diri mereka berada di atas sebagian yang lain Batasan antara timur dan barat, tradisional dan modern, beradab dan biadab serta antara kulit putih dan berwarna Apakah sebenarnya bedanya Semua manusia berasal dari benih yang sama Yaitu benih adam dan hawa yang akhirnya terusir dari surga Manusia sama sama hanyalah gumpalan tanah yang diberi ruh Manusia juga sama sama adalah hasil dari kompetisi sperma yang bertempur untuk bisa membuahi sel telur Setelah berbuah, membelah, lantas tumbuh dan berkembang Lantas apakah bedanya kita dengan mereka Apakah yang menjadi dasar anggapan kalau Barat selalu lebih unggul dari timur Kulit putih lebih tinggi derajatnya dari kulit berwarna Kalau bangsa yang satu berada di atas bangsa yang lain sehingga membuatnya merasa bebas berbuat apa saja Apakah ilmu pengetahuan Budaya Pandangan mereka terhadap diri mereka sendiri atau bahkan nafsu dan keserakahan manusia Anak Semua Bangsa merupakan buku kedua dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa adalah sebuah titik balik dalam kisah hidup seorang Minke Bentrokan antara kekagumannya terhadap Eropa dengan realita yang dialami bangsanya Merupakan titik balik dimana ia mulai untuk mengenal bangsanya sendiri Mengenal dirinya sendiri Setelah kepergian istrinya Annelies , Minke berencana untuk melanjutkan studinya di tanah Betawi Akan tetapi, siapa sangka, perjalanannya ini menjadi pemicu menuju titik balik kehidupannya Pertemuannya dengan Khouw Ah Soe menggugah semangatnya untuk bergerak sebagai kaum muda Sindiran sahabatnya Komer menantangnya untuk lebih mengenal bangsanya Kenyataan dan kisah seorang petani Trunodongso serta seorang Surati cukup menyadarkannya kalau ia memang tidak cukup mengenal bangsanya sendiri Ini adalah sebuah titik balik dari perjalanannya di atas bumi manusia Perrjalan mengenal kembali bangsanya bukanlah suatu hal yang mudah Minke dihadapkan pada suatu keironisan baru Kenyataan bahwa bangsanya cukup kerdil di tengah tengah masyarakat dunia Bangsa kerdil yang tidak cukup bangga memandang dirinya sendiri Bangsa kerdil yang betah selama berabad abad selalu menghamba pada bangsa lain, yang ironisnya terjadi di atas tanah mereka sendiri Menjadi budak di atas bumi mereka sendiri.
Humanisme, kesadaran akan harga diri bangsa, keadilan, konflik antara barat dan timur dan kesetaraan manusia masih mewarnai buku kedua ini Bahkan nila nilai itu terasa lebih nyata dan menohok Humanisme yang universal Walaupun pada dasarnya semua manusia diciptakan setara Akan tetapi, manusia pulalah yang telah membatasi dirinya sendiri Kekerdilan pikiran dan mental di satu sisi dan kerakusan di sisi lain Kebodohan di kutub yang satu, melawan modal dan ilmu pengetahuan di kutub yang lainnya Kita adalah apa yang kita pikirkan Selama suatu bangsa masih memandang rendah dirinya sendiri, selamanya bangsa itu akan berharga rendah Selama suatu bangsa tidak menganggap dirinya setara dengan bangsa lain, maka akan selamanya pula ia menjadi hamba Penggambaran yang cukup menyentak dan menohok kesadaran Bahkan lebih jauh dapat menjadi suatu kritik dan sindiran tajam apabila ditarik hingga era sekarang Humanisme, keadilan, kesetaraan dan kesadaran akan diri sendiri Lebih jauh lagi menjurus kepada sosialisme yang sama rata sama rasa Komunisme yang sama rata sama rasa tanpa kuasa Hahaha, terlalu jauh sepertinya kalau saya menariknya hingga ke arah sana Akan tetapi bisa jadi, itu yang menjadi ketakutan kaum penguasa orde sebelumnya Ketakutan akan kritik terhadap diri sendiri Ketakutan melihat cacat di tubuh sendiri Tapi ini hanyalah sebuah kemungkinan dari berjuta kemungkinan yang beredar di luar sana Mungkin, maybe, bisa jadi, probably Hahaha.
.
entahlahtak mau pusing saya memikirkannya Saya bukanlah ahli sejarah, tata negara dan sastra saya juga bukanlah negarawan, politikus atau birokrat Saya bukanlah siapa siapa Saya hanyalah penikmat seni dan sastra.
The second in Toer s humanistic, postcolonial epic As with This Earth of Mankind, I spent a lot of time thinking good lord, it s been ages since anyone s written a novel like this Something with this degree of scope, of complexity There s less romance and less family in Child of All Nations, and a lot struggle Struggle against the colonizers, struggle against the Javanese feudalists, struggles against the comprador classes, struggle against generally shitty people, struggle against one s own personal prejudices Language becomes the key Dutch is the language of the colonial state, Javanese is the language of the feudal past, especially in its highly Sanskritized form, English is the language of international discourse, and Malay is the language of the coming revolution, something both local and yet delinked from archaic tradition Can t wait for the next volume.

Pramoedya Ananta Toer was an Indonesian author of novels, short stories, essays, polemics, and histories of his homeland and its people A well regarded writer in the West, Pramoedya s outspoken and often politically charged writings faced censorship in his native land during the pre reformation era For opposing the policies of both founding president Sukarno, as well as those of its successor, t